persamaan nenek-nenek dengan kurma adalah mereka sama-sama memiliki kulit kisut yang tidak menarik, walaupun ternyata kurma itu rasanya manis dan legit, aku jadi bertanya apakah rasa nenek-nenek juga sama? manis dan legit.... hanya ada satu cara untuk memastikannya...
siang itu aku melintasi monumen yang mirip dengan markas gordon yang terletak di depan rumahku, aku celingukan mencari sesosok monster keriput yang dinamakan nenek-nenek (aku gak berminat dengan kakek-kakek, karena aku yakin aku tidak menginginkan daging tambahan yang menggelantung di sela-sela selangkangan calon makan malamku). ini siang hari, jarang ada nenek-nenek berkeliaran di tengah teriknya matahari tropis di tengah-tengah isu global warming. aku rupanya mencari ditempat yang salah, bisa kubayangkan nenek-nenek jam segini sedang nongkrong di depan rumahnya dengan hanya menggunakan kutang kain dan selembar selendang.
aku berhenti celingukan dan menggigit bibirku, berusaha mengelupoas kulit kering di bibir dengan gigiku yang seperti berang-berang (mungkin mereka binatang pemberang?). aku memutar arah, berjalan dengan menyipitkan mata karena panas, kutuju arah perumahan di belakang gedung telkom. tidak perlu kuceritakan perjalanan panjang nan membosankan menuju ke arah perumahan yang disinyalir terdapat nenek-nenek calon makan malamku.
pokoknya, aku melihat sesosok kegelapan yang keriput, kulitnya mengkerut, di balik kulit itu bisa kurasakan pengalaman hidup yang kaya, seolah tiap relung di dalam kerutannya itu menyimpan satu cerita hidup yang akan diceritakan kepada cacing-cacing tanah dimana nanti ia akan dikubur (aku menghilangkan opsi kremasi dalam penguburan sosok itu). yah pokoknya dia ada disana, dia adalah kurmaku, kurma yang akan kucicipi sebentar lagi. sosok itu sedang duduk di bangku terasnya, aku mendekat dengan pasti, tersenyum dan melambaikan tangan dari kejauhan. monster keriput yang kemungkinan rasa kurma itu balik melambai dan balik tersenyum tanpa menaruh curiga sedikitpun.
aku semakin dekat dengannya, dari jarak dekat, dia tampak lebih mirip monster dari monster itu sendiri. kulitnya berbintik-bintik coklat dan kantong matanya sebebsar teh celup. "ada perlu apa nak?", dia bertanya duluan. aku tersenyum sebelum menjawab, " gak apa-apa, aku pikir aku kenal dengan nenek, ternyata aku salah", aku tersenyum lagi, namun sengaja aku menampilkan semburat sesal di dalam senyumku, aku hendak berbalik namun nenek itu bicara lagi, "memangnya tadi cari siapa?"
"nenekku yang sudah meninggal, aku pasti kangan banget sama dia sampai-sampai....", aku berhenti berkata-kata karena sekonyong-konyong monster tua itu berdirim dan mengacung-acungkan samurai yang entah disimpan dimana tadi, aku mundur beberapa langkah.
"anak setan!!!!!! emang muka gue kayak nenek-nenek apa??? hah?! lu pikir gue bakalan mampus dalam waktu dekat hah?!", monster tua itu merangsek maju dan aku tanpa berpikir lagi, berlari kencang, aku gak tahu kemana arah lariku, yang jelas aku harus menjauh dari dia, aku gak mau leherku disambit samurai. aku berhenti di suatu tempat ketika merasa sudah aman. napasku ngos-ngosan.... aku melihat kebelakang dan ternyata!!!!! nenek itu mengejarku sampai sejauh ini!!!!!!!!!
setelah peperangan di dalam hati, akhirnya aku memutuskan untuk menghadapi nenek tua itu, kulihat kiri-kanan tidak ada manusia lain selain aku (karena mahkluk keriput itu tidak kuhitung sebagai manusia!) dia menerjangku dengan samurainya, aku menangkis terjangan samurainya dengan kakiku, kumendekat pada lehernya dan mengigit dagingnya yang ternyata rasanya pahit!!!! puih!!!!! aku muntahkan dagingnya yang menggantung di mulutku, nenek itu memegang lehernya yang terkoyak, dan aku menusuk nenek itu di kedua matanya dengan jari-jariku, dia menejrit seperti dajal, aku berlari pulang kerumah.... ternyata dagingnya tidak enak, sama sekali gak mirip kurma.... dengan kecewa aku mengusap darah di mulutku, sebentar lagi bulan puasa dan aku belum menemukan penganan alternatif pengganti kurma, aku bersedih dan menangis...
by indrarani
