Tuesday, May 18, 2010

ini baru

Akhir-akhir ini aku sering memikirkan tentang kematianku sendiri, membayangkan bagaimana jika seorang pria tidak berpendidikan menggorokku dengan linggis yang tumpul... darahku mengucur deras dari luka yang menganga di leherku, aku terjatuh ke jalanan yang dingin dan berlumpur, lalu pria tidak berpendidikan itu dengan gampang mneyelesaikan tugas akhirnya untuk membinasakanku....

Banyak orang yang menganggapku berlebihan tentang kebiasaanku untuk membayangkan kematian (yang terjadi hampir setiap saat). Tetapi, menurutku hal itu adalah suatu kewajaran, mengingat kematian dapat dengan mudah terjadi pada siapa saja, dimana saja... semua hanya soal waktu. Sejujurnya, aku membayangkan soal kematianku sendiri sedari kecil. Kubayangkan bagaimana bila kiamat terjadi, bagaimana jika aku tenggelam di dalam air bah (waktu itu aku belum bisa berenang, jadi mati tenggelam menduduki peringkat pertama dalam ketakutanku soal cara kematianku).

Pemikiran soal kiamat ini sering muncul gara-gara pelajaran agama, guru agamaku di sekolah dasar memberiku rincian tentang apa itu kiamat, ciri-cirinya, dan itu akan menimpa seluruh umat manusia, terutama mereka yang tidak soleh... hahhahahha.... bahkan semenjak aku sebesar jahe, aku punya perasaan bahwa aku bukan anak yang soleh, mengapa? Karena aku sadar aku adalah tipe orang yang memiliki ide-ide yang kurang baik di dalam otakku, aku mendapatkan kesenangan dengan mengerjai nenek-nenek dan orang-orang yang lebih lemah dariku....

Ketika memikirkan soal kiamat, aku akan naik ke atas ranjang kayuku, menarik selimut sampai menutupi setiap inci dari tubuhku, dan berharap bahwa selembar selimut tebal dapat melindungiku dari kiamat. Tetapi aku punya ide brilian tentang menghindari kiamat. Aku akan masuk ke dalam televisi... berharap di dunia televisi tidak terjadi kiamat. Betapa enaknya berada di dalam televisi, sementara orang-orang berlarian menghindari lontaran bola api dari langit, orang-orang menangis dan menjerit sampai di telan tanah, aku dengan enak bersembunyi di dalam televisi, lagipula televisi adalah kotak yang kuat, ia tidak akan pecah oleh hujan batu atau tertimbun reruntuhan gunung. Ya, tapi kaca televisi terlihat sangat rapuh bagiku, tapi itu bukan masalah, aku bisa berlari menghilang kedalam dunia televisi dimana dunia nyata tidak akan bisa menjamahku.

Tetapi yang agak sulit dari rencana penyelamatan diriku adalah bagaimana aku bisa meyakinkan ibu, ayah, kakak, dan adikku untuk ikut bersamaku masuk ke dalam televisi? Aku punya perasaan bahwa keluargaku meremehkan ide brilianku itu. Sementara itu, aku tidak bisa hanya selamat sendiri, keluargaku juga harus selamat, tetapi kalau memang tidak mau, ya sudah... minimal aku akan hidup sendiri untuk meneruskan semua impian mereka dalam hidup... atau mungkin pada saat-saat terakhir mereka mau ikut bersamaku masuk ke dalam dunia televisi.

Ya, terbukti benar! Keluargaku memang sama sekali tidak tertarik untuk menyelematkan diri bersamaku ke dalam televisi. Itu terjadi pada suatu siang yang cerah di musim panas, saat ayam-ayam yang kupelihara berak di halaman dengan nikmat. Aku menawarkan ideku pada ibu untuk ikut menyelamatkan diri bersamaku ketika kiamat tiba. Ibuku hanya menjawab sambil lalu, dia terlihat tidak tertarik. Ia terlalu sibuk mencucui selada air untuk santap siang, berjalan hilir mudik di seputar dapur, aku membuntuti ibu, mengikuti setiap langkah ibu, aku sangat perlu ibu, aku terus meyakinkannya untuk ikut bersamaku, tetapi ibuku malah jadi jengkel. Rencanaku untuk menyelamatkannya malah ditanggapi dengan kejengkelan.

Aku terdiam mematung di pojokan dapur, aku menatap sosok ibuku dengan baju piama bermotif batiknya, rambut keritingnya mengembang seperti roti di dalam oven, tangannya yang sudah mulai keriput dan berbintik di usia 35 tahun memegang selada air yang meneteskan air, kulihat bibirnya yang tebal makin tebal karena ia merenggut. Aku sayang ibu, aku gak mau selamat sendirian, aku mau mati asal ibu selamat...
. kenapa semua orang menyerah begitu saja pada kiamat???? Kenapa semua orang begitu bodoh? Kenapa hanya aku yang memiliki ide brilian untuk menyelamatkan diri ke dalam televisi? Itu adalah tempat teraman di dunia pada saat kiamat terjadi! Lalu yang kubayangkan setelah kiamat usai, dunia ini adalah sebuah lubang kosong yang hitam... tidak ada apa-apa lagi di dunia ini, kecuali berjuta-juta kotak televisi yang melayang-layang di dalam ruang kosong hitam itu... kami mahluk-mahluk yang ada di dalam televisi itu akan aman membangun dan menikmati hidup kami. Tidak ada apapun di luar sana. Sedangkan di dalam televisi semuanya akan baik-baik saja. Hanya ada cahaya matahari, rumput hijau, hamparan bunga matahari, beri hutan, dan ayunan dari ban bekas yang tergantung di pohon ek yang kuat....

2 comments:

Unknown said...

ckckckck...

Fandy Hutari said...

hiiiiiiiiii

Post a Comment